Cerita Tentang PANGERAN KUCING

75
Pangeran Kucing

Aku pegang ujung baju enyak dan terus menguntitnya hingga memasuki warung Mpok Marfuah. Mataku tak lepas dari deretan permen yang ditaruh dalam toples. Warna-warni, beraneka rasa. Ketika Enyak terus melangkahkan kakinya kedalam warung, aku malah terpaku pada bungkus-bungkus chiki snack yang bergelantungan dua jengkal diatas kepalaku.

“Sayur sop, lengkap. 5 rebu yeh”, Mpok ucap enyak. Kini perhatianku tertuju pada tangan Mpok Marfuah yang sigap melayani pesanan Enyak. Ada kubis, seiris wortel , seledri, kentang dan tomat. “BBM Naik, Mpok, ape-ape mahal, ane yang jualan ampe suseh mikirnya,” Sahut pemilik toko lontong itu. Ah, aku sendiri aja tak mengerti apa yang ia perbincangkan. Apa itu BBM? Apakah itu ada kaitannya dengan kasus KKN yang biasa kudengar di TV-TV ya? Bodo amat dengan BBM dan KKN, yang jelas hari ini Enyak menjanjikan permen untukku!

“Miaw, miaw, miaw.” Mataku tergerak mencari sumber suara. Aku tahu, itu suara kucing, binatang yang tak boleh aku dekati apalagi memeliharanya, karena aku punya penyakit bengek. Seekor kucing kurus berbelang abu-abu tengah mengeong didalam kerangkeng, disudut warung. Lehernya di ikati tali yang biasa untuk mengikat anjing. Naluri usil kanak-kanakku terpanggil. Segera aku lepaskan pegangan tanganku dari baju enyak.

“Miaw, miaw, miaw.” Meongan kucing itu seolah-olah memintaku untuk melepas tali yang menjerat lehernya dari dalam kerangkeng yang hanya dikunci dengan pengait dari kawat. Tolah-toleh melihat pemilik toko dan enyak yang sibuk ngerumpi harga beras yang ikut meroket. Kumasukkan tangan kecilku kedalam krangkeng, mencoba membuka tali yang mengikat dileher kucing itu. Entah bagaimana kucing abu-abu itu tiba-tiba meronta dan mencakarku.

Mengagetkanku. Reflek kutarik tanganku, namun malah menghantam deretan botol-botol kecap dan saos yang tertata di rak, dekat kerangkeng itu.

Pranggg! Sepertinya ada sesuatu yang menimpa kepalaku. Namun sebelum ku menyadari tiba-tiba semua menjadi berat dan gelap. Pet!

***

Kala membuka mata untuk kali pertama, kutemukan tubuhku terbaring diatas rerumputan. Bunga dandelion tumbuh menyelingi rumput yang lebat dan tinggi itu. Apa? Kenapa rumput ini setinggi ketiakku? Atau tubuhku yang mengkerut seperti kurcaci dalam kisah Snow White?

“Kau sudah siuman, miaw…,?” Seekor kucing menyapa, ia berdiri di dekatku.

Aku kaget, lalu berjingkat menjauh ketakutan. Bagaimana mungkin ada kucing sebesar ini, bisa bicara pula!

“Aku adalah kucing yang kau temukan di warung itu, miaw…,” Lalu ia menjilat tangannya dan mengussapkan kewajahnya.

“Namamu Oriza, kan?

Kenalkan, aku pangeran kucing.”

Apa, dia pangeran kucing? Dia juga tahu kalau namaku Oriza.

“Mari kuajak makan keistanaku, miaw…”

Yang bisa kulakukan hanyalah menurut. Seperti halnya dunia manusia, aku melihat bangunan-bangunan yang di fungsikan sebagai pasar yang menjual aneka ikan segar. Ada sekolah yang dengan kucing imut-imut dan dengan unyu-unyunya. Ad ataman bermain, ada rumah sakit, ada dokter kucing!

Pandanganku tertuju7 pada papan-papan yang ditempati kucing-kucing yang terkapar. Ada yang tangannya di perban, ada yang kakinya gips dan ada pula yang borokan, langkahku terhenti pangeran kucing menjelaskan kalau itu adalah shelter yang di fungsikan untuk merawat kucing-kucing yang tertabrak kendaraan, kucing yang terluka karena berkelahi dengan anjing, atau kucing yang ditelantarkan pemiliknya.

Akhirnya setelah berjalan agak lama, sampailah kami distana. Sebuah meja panjang berisi aneka makanan telah tersedia. Puluhan pengawal kucing berdiri mengitari ruangan. Aku dipersilakkan duduk di ujung meja menghadap aneka kue tart. Air liurku sudah tak terbendung lagi.

Seseorang pelayan kucing mengambilkan makanan kepringku. Perutku terasa sangat lapar. Aku makan dengan lahap. Tiba-tiba semua kucing disitu tertawa dan saling mengeong. Tanpa aku sadri mendadak dari tubuhku keluar asap yang membuatku menginggil ketakutan, tangan dan tubuhku mulai bermunculan bulu-bulu aneh dan menebal. Aku berubah menjadi kucing.

“Bagaimana bersedia kan kau menjadi putri kucingdi istana ini,miaw?”

“Tisakkk, aku tak mau menjadi kucing,miaw.”

Astaga! Ucapankupun berubah seperti mereka.

“Aku tak mau berubah menjadi kucing,miaw. Nyaakkk!”

Aku menangis, berteriak sekuat tenaga! Dalam hati menyesal seharusnya inget pesen Enyak harus hati-hati dengan orang asing meski terkesan pertama-nya terlihat manis. Pun seharusnya aku hati-hati menerima makanan dari orang tak dikenal! Kenapa aku tak patut pada nasehat Enyak.

                                                                                    ***

    “Nyak!”

    Tubuhku seperti digoyang-goyangkan. Kesadaranku rutun naik. Dalam gelap fikiranku, kulihat secercah cahaya, semakin lama semakin terang. Mataku benar-benar terbuka. Kulihat Enyak dan Babe duduk disampingku. Lalu aku kembali ingatanku kembali pada pangeran dan menjadi putrid kucing. Miaww.”

“Nyaaak, Ori takut! Ori tak mau jadi kucing.” Aku berteriak menangis sejadi-jadinya. Sementara enyak hanya mampu memeluk erat diriku.

Lalu aku menceritakan kejadian yang kualami dengan pangeran kucing.

“Itu tandanya, kalau kita tak punya kemampuan mengurus hewan peliharaan, mending hewan itu di taruh/ Dipelihara di Pusat-pusat Perlindungan binatang. Malah kasian kalau mati sia-sia, bukan? Tunggulah kalau sakit bengekmu sudah sembuh, tentu Nyak dan Babe ngijinin kamu memelihara kucing.” Ucap Babe panjang lebar.

“Istirahatlah, biar luka dikepalamu cepat sembuh. Lain kali kalau diajak Enyak ke warung tangannya jangan usil nanti kejatuhan botol kecap lagi. Ngerti.Sayang?” Sahut Enyak.

Akupun mengangguk. Untungf hanya mimpi.

Kuedarkan pandanganku pada jendela disisi kanan ranjangku. Kulihat kawanan kucing, kucing rumahan yang biasa sering kutemui. Mereka berjalan beriring diatas pagar rumah, seekor kucing abu-abu sebagai pemimpin kawanan itu. Tiba-tiba ia menoleh kepadaku. Miaww…*)