Idiosinkrasi Terhadap Ekologi

163

Idiosinkrasi terhadap ekologi merupakan perilaku yang dilakukan seseorang terhadap lingkungan. Idiosinkrasi terhadap ekologi erat kaitannya dengan psikologi lingkungan. Psikologi lingkungan merupakan konsep dalam mempelajari apa yang biasanya dilakukan orang dalam lingkungan tertentu dan mempelajari apa yang bisa dilakukan orang dalam situasi tertentu. Idiosinkrasi terhadap ekologi memiliki strategi dalam menilai bagaimana manusia mengerti dan menilai lingkungan. Penilaian tersebut didasarkan pada dua cara strategi, yaitu:

  1. Strategi konvensional: strategi ini menggunakaan aspek persepsi, dimana seseorang dapat mengenali dan menilai obyek-obyek lingkungan.
  2. Strategi konstruktivisme: strategi ini menggunakan aspek aktivitas, dimana seseorang mengenali lingkungan berdasarkan aktivitas pokoknya.

idiosinkrasi-terhadap-ekologi

Berdasarkan strategi yang digunakan dalam menilai idiosinkrasi terhadap ekologi, terdapat berbagai macam prinsip yang melingkupinya, antara lain:

Prinsip Stimulan Ekologi

Prinsip stimulant ekologi ini memiliki elemen dasar yang menyebabkan seseorang bertingkah laku terhadap ekologi. Prinsip ini dapat mempelajari tentang faktor-faktor yang ada di lingkungan seperti kebisingan, kepadatan, dan suhu udara. Hubungan antara seseorang dengan lingkungan ini menyebabkan  munculnya berbagai macam reaksi yang disebabkan oleh kondisi lingkungan, seperti reaksi penolakan, menghindar serta menyerang. Strategi ini membebaskan seseorang dalam menilai suatu lingkungan yang melibatkan kesadaran dan tingkah laku yang akan diperbuat.

Prinsip Eskalasi Ekologi

Prinsip eskalasi ekologi merupakan prinsip yang berfungsi untuk meningkatkan daya ekologi seseorang. Daya ekologi ini dipengaruhi oleh perubahan kegiatan antara perantara yang datang dari lingkungan dengan tingkah laku yang terjadi. Prinsip eskalasi ekologi ini dapat dicontohkan jika seseorang datang dari tempat dia bermukim (desa) melakukan perjalanan ke kota menggunakan alat transportasi umum berupa kereta api. Ketika seseorang tersebut sampai ditempat tujuan dan turun di stasiun tujuannya, maka secara langsung dia akan menghadapi berbagai eskalasi ekologi seperti keramaian, udara yang panas, kebisingan, maupun polusi udara. Hal ini menyebabkan seseorang tersebut mengalami peningkatan daya ekologinya dengan cepatnya detak jatung, meningkatnya produksi adrenalin, serta naiknya tekanan darah. Adanya hal tersebut, maka efek tingkah laku terhadap ekologi juga menjadi meningkat seperti bertambahnya kewaspadaan.

 Prinsip Psikologi Ekologi

Prinsip Psikologi Ekologi merupakan prinsip yang mempelajari mengenai hubungan timbal balik antara ekologi dan tingkah laku seseorang. Hal ini erat kaitannya dengan pola tingkah laku suatu seseorang yang terjadi sebagai akibat dari kondisi lingkungan tertentu. Hal ini dapat dimisalkan pada kasus jika ada sebuah ruangan yang memiliki 2 pintu dan beberapa jendela, ruangan berisi meja tulis di bagian depan ruangan, terdapat sejumlah bangku yang menghadap meja tersebut, lalu ada papan tulis yang terpasang di dinding. Dalam hal ini seseorang yang memasuki ruangan tersebut pasti akan memiliki psikologi ekologi dan berfikir bahwa ruangan tersebut merupakan ruang belajar mengajar dan terdapat rangkaian tingkah laku murid yang sedang belajar di kelas. Jika dalam suatu ruangan yang sama namun berisi perlengkapan perkantoran maka orang-orang di dalamnya juga akan bertingkah laku sebagaimana pegawai kantor. Prinsip psikologi ekologi juga akan meningkatkan penginderaan melalui peningkatan hasil kerja pada saat melakukan suatu kegiatan. Misalnya seseorang yang sedang mengemudi dengan mendengarkan musik, maka suara musik tersebut dapat meningkatkan semangat pengemudi.

Prinsip Cara Berpikir

Prinsip cara berpikir merupakan prinsip dimana ada faktor khusus terhadap diri dengan pengaruh tingkah laku pada ekologi. Prinsip cara berpikir ini melihat bagaimana cara seseorang berpikir dalam menanggapi pengaruh dari ekologi. Prinsip cara berpikir tersebut berdasarkan cara berpikir sistem, dimana adanya cara berpikir ini menyebabkan perbedaan dalam reaksi terhadap ekologi. Hal ini dapat dimisalkan dengan kasus terjadinya kemacetan di jalan raya. Dalam hal menanggapi masalah kemacetan jalan raya ini, kebanyakan orang akan berpikir bahwa penyebab kemacetan adalah terlalu banyaknya kendaraan dan sempitnya lebar jalan serta berpendapat bahwa solusi kemacetan yang terjadi yaitu mengurangi jumlah kendaraan dan melakukan pelebaran jalan. Namun, jika seseorang berpikir dengan sistem, maka akan berkesimpulan bahwa penyebab kemacetan jalan karena adanya ledakan penduduk maupun urbanisasi. Kesimpulan tersebut selanjutnya akan dipertimbangkan jalan keluar melalui beragam pilihan solusi dengan melakukan kajian lebih mendalam seperti menertibkan pedagang kaki lima dan meningkatkan kualitas alat transportasi umum.