Sa’ad bin Abi Waqqash r.a Sang Singa Dengan Kukunya Yang Tajam

207
Sa'ad bin Abi Waqqash r

Sa’ad, Sang Singa Dengan Kukunya Yang Tajam

         Sosok yang satu ini memang tidaklah sefenomenal para sahabat Rasulullah SAW seperti Umar Bin Khatab, Abu Bakar, ataupun Utsman. Namun Rasulullah SAW menobatkannya sebagai salah satu dari sepuluh sabahatnya yang mendapat jaminan masuk syurga.

         Sa’ad bin Abi Waqqash r.a namanya, terhitung sebagai sahabat senior dan orang ketiga yang masuk Islam. Dialah sahabat yang pertama kali melepas anak panah dalam jihad Islam dan begitu tegar membela Rasulullah dalam perang Uhud. Sa’ad juga ikut serta dalam perang Badar sebelum menginjak usia dewasa. Dalam perang tersebut ia berjuang dengan gigih bersama Rasulullah saat sebagian pasukan lalai. Sehingga ia mendapat julukan Singa dengan kukunya yang tajam.

KeIslaman Sa’ad

        Masih ingatkah salah satu kandungan isi dari Surat Al-Lukman ?  “ Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu-Bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada Ku-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya didunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan ( QS.Luq-man :14-15)”.

        Ayat diatas ternyata memilikki kisah tersendiri yang berkaitan dengan sosok Sa’ad. Tatkala cahaya kenabian memancar dikota Makkah, walaupun baru berusia 17 tahun, namun Sa’at telah memilikki kematangan berpikir dan kedewasaan bertindak. Sehingga Sa’ad tercatat sebagai orang ketiga atau empat yang masuk Islam. Bahkan dia berucap dengan penuh kebanggaan, “Setelah aku renungkan selama seminggu, maka aku masuk Islam sebagai orang ketiga.“ Ungkapnya.

        Rasulullah SAW sangat bersuka cita dengan Islamnya Sa’ad. Karena beliau pada pribadi Sa’ad terdapat ciri-ciri kecerdasan dan kepahlawanan yang menggembirakan. Seandainya kini dia ibarat bulan sabit, maka dalam tempo singkat dia akan bulan purnama yang sempurna.

        Tetapi keIslaman Sa’ad tidak langsung memberikan kemudahan baginya. Salah satunya adalah ketika sang ibu mengetahui Sa’ad masuk Islam, dia marah bukan kepalang. Hingga sang ibu berteriak “Hai Sa’ad !!! Agama apa yang engkau anut, sehingga engkau meninggalkan agama ibu-bapakmu? Demi Tuhan ! engkau harus meniggalkan Agama barumu itu !! atau aku mogok minum dan makan sampai mati!”. Sa’ad yang begitu sayang pada sang Ibu menghiba, “Jangan lakukan itu Bu ! Tetapi Akupun tidak akan meninggalkan Agmaku biar bagaimanapun.“

        Namun, ibunya yang tegas dan keras tetap melaksanakan niatnya. Diantara kegelisahan Sa’ad memilih antara ibu dan Agamanya, maka Allah SWT menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad SAW yang tertuang dalam Surat Al-Luqman aayat 14-15.

        Puncak kejayaan Sa’ad, ialah ketika Khalifah Umar bertekad menyerang kerajaan Persia. Untuk menggulingkan pusat pemerintahannya, dan mencabut agama berhala sampai ke akar-akarnya di permukaan bumi. Khalifah Umar kemudian merundingkan dengan para pemuka yang berwenang, siapa kiranya yang pantas dan di percaya untuk diangkat menjadi panglima angkatan perang yang besar itu. Mereka sepakat dengan Aklamasi dan menunjuk Sa’ad bin Abi Waqas sebagai panglima. Sa’ad tak mengecewakan Khalifah Umar. Ia berhasil memenangkan peperangan, dan mengukir keteladanan yang sangat indah dalam pengorbanan, kekuatan, dan kepahlawanan.

Akhir Hidup Sang Panglima

         Meskipun belum di ketahui secara pasti dimana Sa’ad meninggal dan di kuburkan, namun sebagian percaya bahwa Sa’ad bin Abi Waqas menghabiskan sisa hidupnya dan meninggal di Guangzhou, China. Sebuah pusara kini di yakini sebagai makamnya. Makam yang menjadi satu lagi tempat kunjungan pelawat dari seluruh kota pelosok dunia.

         Ini berdasarkan catatan dari dinasti Tang yang berkuasa pada 618-905 M dan berdasarkan catatan serupa dalam, buku A brief Study of the Introduction of Islam to China karya Chen Yuen, Islam pertama kali datang ke China sekitar tahun 30 H atau 651 M.

        Disebutkan bahwa Islam masuk ke China melalui utusan yang di kirim oleh Khalifah Utsman bin Affan sementara menurut catatan Lui Tschih, penulis Muslim China pada abad ke 18 dalam karyanya Chee Chea Sheehuzoo (Perihal Kehidupan Nabi, Islam di bawa ke China oleh rombongan yang di pimpin Sa’ad bin Abi Waqqas).

        Sebagian catatan lagi menyebutkan, Islam pertama kali datang ke China di bawa oleh panglima besar Islam, Sa’ad bin Abi Waqqas, bersama Sahabat lainnya pada tahun 616 M. Catatan tersebut menyebutkan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqas dan tiga sahabat lainnya datang ke China dari Habbasya atau yang sekarang di kenal dengan Ethiopia.

        Setelah kunjungan yang pertamanya. Saat kemudian kembali ke Arab lalu kembali lagi ke China 21 tahun kemudian atau pada masa pemerintahan Usman bin Affan dengan membawa salinan Al-Qur’an. Usman pada masa kekhalifahannya memang menyalin Al-Qur’an dan menyebarkan ke berbagai tempat, demi menjaga kesucian kitab murni ini.

        Pada kedatangannya yang kedua di tahun 650 M, Sa’ad berlayar menuju pelabuhan laut di GuangZhou Kemudian berlayar ke Chang’an atau kini dikenal dengan nama Xi’an melalui rute yang kemudian dikenal sebagai jalan sutera.

        Bersama para sahabat, Sa’ad datang dengan membawa hadiah dan diterima dengan baik oleh Dinasti Tang, Kao-Tsung (650-683). Namun Islam sebagai Agama tidak langsung deterima oleh sang kaisar. Setelah melalui proses penyelidikan, sang kaisar kemudian memberikan izin bagi pengembangan Islam yang di rasanya sesuai dengan ajaran Konfusius. Sang kaisar mengizinkan Sa’ad bin Abi Waqqas dan sahabatnya untuk mengajar Islam pada masyarakat di GuangZhou.

       Oleh orang China Islam disebut sebagai Yi si Lan Jiao atau Agama yang murni. Sementara Mekkah disebut sebagai tempat kelahiran Buddha Ma-Hia-Wu (atau Rasulullah Muhammad SAW).

       Sa’ad bin Abi Waqqas kemudian menetap di Guangzhou dan mendirikan Masjid Huaisheng yang menjadi salah satu tonggak sejarah Islam paling berharga di China. Masjid ini menjadi Masjid tertua yang ada di daratan China dan usianya sudah melebihi 1300 Tahun. Ianya terletak dijalan Ghuang Ta Lu.

       Masjid ini tetap bertahan melewati berbagai monument sejarah China dan saat ini masih berdiri tegak dan masih seindah dahulu setelah diperbaiki beberapa kali.

       Masjid Huaisheng ini kemudian dijadikan Masjid Raya Ghuangzhou remember the sage, atau masjid untuk mengenang Nabi Muhammad SAW.