Tabah dan Jangan Terpuruk Oleh Keadaan

160

Tabah..

Rohimah duduk termangu disamping jendela kamarnya. Hasil yang didapatkan selama ini seakan lenyap tak berbekas. Sadar betapa dirinya telah jauh dari jalan yang seharusnya ia tempuh, ia pun menyesal. Kini kontraknya hampir habis.

    Segala fasilitas yang diberikan majikan seharusnya bisa di manfaatkan untuk merajut masa depan putri tercintanya yang kini duduk di bangku kelas satu SD. Namun dia tak ingat anak dan suaminya, tenggelam dalam keasyikan dengan kebiasaan yang perlu mengeluarkan banyak biaya.

    “Aku nyesel mbak, menghambur-hamburkan uang untuk ikut mode kayak anak gaul gitu. Aku sadar kalau selama ini aku boros dan menyia-nyiakan gajiku.” Ungkapnya sedih.

     “Pesanku untuk temen-temen lain adalah bekerjalah dengan baik dan selau bersikap positif sehingga kita tak terbawa pikiran jelek hingga kita terdorong untuk melakukan hal-hal bodoh. Saya ini selalu mikir negative kepada suami saya, makanya saya gak pernah ngirim uang untuk dia. Malah saya menghambur-hamburkan uang gak karuan. Kini suami saya sudah bisa bikin kedai bakso sendiri berkat kerja kerasnya sendiri. Saya menyesal mbak. Coba kalau saya berpikir positif, tentu saya tidak begini jadinya, mau pulang uang gak punya. Padahal sebenarnya suami saya orangnya sangat baik. Tapi mungkin karena terbawa pikiran negative itulah saya jadi begini.”

     Ia mengulurkan secarik foto anak perempuannya sambil terisak. Bekerja 4 tahun di luar negri uangnya tidak terkumpul.

     “Saya mau nambah lagi, Mbak, saya sudah bilang kesuami saya. Saya ingin memperbaiki diri.” Ujarnya mantap sekaligus mengakhiri percakapan.

     Lain Rohimah, lain pula cerita Suprapti, wanita yang enerjik dan gaul ini kabarnya bercerai dengan suaminya. Rumah yang ia bangun telah dijual oleh suaminya. Ia pun tak tahu bagaimana dan kemana uang hasil penjualan rumah itu.

    “Aku yang susah-susah cari uang dan bahkan uangku masih menumpuk di bank. Sekarang rumah itu dijual olehnya.” Ucapnya sedih.

    Suprapti sangat mencintai keluarganya. Ia berangkat bekerja ke luar negri untuk membantu ekonomi keluarganya. Sebelum, ia hidup serumah dengan orang tuanya. Ia ingin membuat rumah sendiri agar tidak membebani orang tuanya lagi.

    Lima tahun bekerja, tak ada masalah yang ia hadapi. Suaminya memanfaatkan kiriman uang darinya untuk membangun sebuah rumah yang cukup bagus dalam ukuran lingkungannya. Namun setelah berdiri, suaminya menampakan gelagat kurang baik. Setiap kali ia menelpon suaminya, tidak pernah diterima.

    Sampai suatu hari ibunya menelpon dengan nada marah menanyakan alasan rumahnya dijual, Betapa kagetnya Suprapti mendengar kabar itu. Ia berusaha mengkonfirmasi suaminya namun telponnya gak bisa di hubungi. Cara lain ditempuh ia menghubungi tetangganya. Ia pun mendapat informasi bahwa beberapa hari suaminya tidak pulang, dan kini rumah itu telah ditempati oleh orang lain.

    Meskipun Suprapti sadar bahwa keberhasilan seseorang tdak hanya patut dipandang secara ekonomi, tentu ia kalang kabut karena rumah itu ia bangun dengan jerih payahnya mengais dolar jauh dari keluarga.

   Ia sudah semaksimal mungkin melakukan apa yang ia rencanakan ketika ia hendak pergi ke luar negri. Bertanggung jawab itu,namun ia juga tak semudah itu langsung percaya dengan apa yang menimpanya.

    Sadar apa yang terjadi, ia memutuskan tidak mengirim uang kepada suaminya lagi. Ia menabungnya lagi untuk bekal masa depan. Dia tak mau gagal untuk yang kedua kalinya. Dia bertekad untuk tegar menghadapi segala cobaan yang Allah limpahkan kepadanya. *)