Wahana Pembelajaran Oli

117

Semua orang pada jaman modern ini pasti sudah menggunakan kendaraan bermotor. Di balik krusialnya fungsi kendaraan bermotor untuk aktivitas orang-orang pada jaman modern ini, ternyata ada elemen yang lebih krusial untuk kendaraan tersebut agar tetap terjaga dan berfungsi sebagai mana mestinya, yaitu oli.

Fungsi Oli
Oli pada umumnya berfungsi sebagai pelumas mesin, tetapi selain itu ternyata oli juga berfungsi sebagai pendingin, pelindung karat, pembersih dan penutup celah dinding mesin.
Oli pada mesin kendaraan adalah ibarat darah dalam tubuh manusia. Oli mengaliri setiap celah di setiap elemen mesin kendaraan, dimana tanpa pelumas semua elemen-elemen pada mesin kendaraan akan bertubrukan satu sama lain dengan keras dan mengakibat rusaknya elemen-elemen mesin pada kendaraan.

Jenis Mesin kendaraan
Oli sudah diproduksi sesuai kegunaannya masing-masing. Sedangkan penggunaan oli mesin disesuaikan dengan jenis-jenis mesin kendaraan. Secara garis besar, mesin kendaraan dibagi menjadi 2 (Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral), yaitu :

  1. Dry clutch (kopling kering) : kopling tidak ikut dilumasi, contoh : mobil, moge, motor matic -> tidak perlu oli antislipkopling
  2. Wet clutch (kopling basah) : kopling ikut dilumasi, contoh : motor bebek,motor kopling (klx,vixion,dll) -> oli yg mengandung anti slipkopling

Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk dalam penggunaan oli :
Wet Clutch -> untuk motor, jgn dikasih oli mobil dg label ‘EC’ atau ILSAC GF-5 (aman utk kopling basah), bisa dengan oli diesel HDEO (Heavyduty Diesel Engine Oil), tetapi tetap disarankan untuk memakai oli motor.

anti-slip-kopling
Contoh oli dengan anti-slip kopling

Spesifikasi Oli
Berikut adalah contoh beberapa spesifikasi oli berdasarkan standarisasinya (Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral) :

  1. Kode API -> American Petrolium Institute ;
  2. Kode JASO -> Japan Automotive Standard Association;
  3. ACEA -> Association Des Constructeurs Europeens d’Automobiles
  4. DIN -> Deutsche Industrie Norm

S”X” -> S: Spark, pelumas mesin untuk bensin ;
C”X” -> C: Compression, pelumas mesin untuk diesel ;
“X” -> nilai mutu oil, semakin mendekati Z semakin bagus dalam melapisi komponen.

Contoh nilai kode huruf “X” :

  • SF/SG/SH : untuk jenis mesin kendaraan produksi (1980-1996)
  • SJ : untuk jenis mesin kendaraan produksi (1996-2001)
  • SL : untuk jenis mesin kendaraan produksi (2001-2004)
  • CE : Diperkenalkan pada tahun 1987, untuk mesin 4T, kecepatan
  • CF : Diperkenalkan pada tahun 1994, untuk kendaraan off-road
  • CH-4 : Diperkenalkan pada tahun 1998, untuk mesin 4T

Kode JASO pada motor dibagi 2, antara lain:

  1. JASO MA adalah jenis oli yang beri kategori untuk bisa melumasi bagian mesin, transmisi dan sekaligus melumasi kopling. Hal utama yang ditekankan adalah untuk pelumasan kopling, sehingga oli tipe JASO MA mampu melumasi kopling agar tidak selip. Jenis kendaraan yang wajib menggunakan oli tipe JASO MA yaitu jenis kendaraan Semi otomatis seperti sepeda motor bebek dan motor manual seperti motor sport dan motor dengan kopling tangan. Sepeda motor ini koplingnya ikut mendapatkan pelumasan dari oli, atau bisa disebut dengan kopling basah.
  2. JASO MB sendiri adalah jenis oli yang hanya boleh melumasi transmisi saja. Jadi tidak bisa melumasi kopling. Jika digunakan untuk kopling cenderung menjadi selip dan kasar. Jenis kendaraan yang menggunakan oli JASO MB adalah jenis kendaraan seperti motor matic atau automatic dan mobil pada umumnya. Kendaraan ini, koplingnya tidak ikut mendapatkan pelumasan dari oli, atau biasa disebut dengan kopling kering.

Pada beberapa oli mobil, ada yang mempunyai dua service API. Contohnya oli yang mempunya kode API SL/CF, ini berarti penggunaan utama oli mobil tersebut untuk mesin bensin dengan kualifikasi SL, namun oli tersebut bisa digunakan pada mesin diesel dengan kualifikasi CF.

Jenis Oli
Berikut adalah jenis oli berdasarkan bahan pembuatannya (Jurnal Analisa Pengaruh Bahan Dasar Pelumas Terhadap Viskositas Pelumas dan Konsumsi Bahan Bakar):

  1. Synthetic : buatan manusia, biasanya terbuat dari terbuat dari PAO (Poly Alpha Olefin -> Semi synthetic dan Full Synthetic
    • Semi Synthetic : terdapat campuran dari oli mineral ;
    • Fully Synthetic : sangat sedikit campuran dari oli mineral ;
  2.  Mineral : dari penyulingan minyak bumi -> sangat sedikit campuran oli synthetic

Oli Synthetic disarankan untuk mesin-mesin berteknologi baru juga yang membutuhkan pelumasan lebih baik dimana celah antar part/logam lebih kecil/sempit dimana hanya oli synthetic yang bisa melapisi dan mengalir sempuna. Oli synthetic tidak disarankan untuk mesin berteknologi lama, dimana celah antar part biasanya sangat renggang, sehingga oli menjadi lebih boros dan ikut masuk ke ruang pembakaran dan menyebabkan knalpot ngebul. Sedangkan oli mineral biasanya memiliki kekentalan yang cukup tinggi. Bagus digunakan untuk kendaraan keluaran tahun produksi lama.

oli-mineral
Contoh Oli dengan bahan Mineral Technology

Kekentalan Oli
Tingkat kekentalan oli (Viscosity-Grade) adalah ukuran kekentalan dan kemampuan pelumas untuk mengalir pada temperatur tertentu. Kode Kekentalan oli adalah SAE (Society of Automotive Engineers), lalu angka dibelakangnya menunjukkan tingkat kekentalan oli tersebut. Semakin besar angkanya, semakin besar juga tingkat kekentalan olinya (Jurnal Analisis Karakteristik Pengaruh Suhu dan Kontaminan Terhadap Viskositas Oli).
Contoh :

  1. SAE 40 untuk monograde, ini berarti oli tersebut memiliki tingkat kekentalan 40.
  2. SAE 15W-50 untuk multigrade, huruf W yang terdapat dibelakang angka awal, merupakan singkatan dari Winter. SAE 15W-50, berarti oli tersebut memiliki tingkat kekentalan SAE 15 untuk kondisi suhu dingin dan SAE 50 pada kondisi suhu panas. Dengan kondisi seperti ini, oli akan memberikan perlindungan optimal saat mesin start pada kondisi ekstrim sekalipun, inilah keunggulan dari oli multigrade dibanding monograde.

jaso
Contoh oli SPX1 dengan spesifikasi API SJ 10W-30 JASO MA

Pada pengguna kendaraan yang masih baru, disarankan menggunakan oli dengan SAE minimal 10W, karena seluruh komponen mesin baru dengan teknologi terakhir memiliki lubang atau celah dinding yang sangat kecil, sehingga akan sulit dimasukin oli dengan kekentalan tinggi.