ZUHUD ITU KAYA

100

Sebagian kecil umat Islam memahami  bahwa Zuhud itu orang yang berpakaian compang-camping. Tidak perlu dan tidak penting dengan kehidupan dunia, selalu dimasjid dan harus dalam keadaan miskin. Sepertinya pendapat itu kurang bijaksana. Sebab makna Zuhud yang sebenarnya adalah tidak menjadikan dunia satu-satunya tujuan hidup. Justru Zuhud mengajarkan kehidupan dunia ini sebagai pijakan untuk menempuh kebahagiaan di kehidupan yang sebenarnya yakni akhirat.

     Tidak meletakkan segala apa yang terlihat oleh kasat mata kedalam hati, merupakan ajaran Zuhud. Artinya, apa yang pernah dilihat oleh mata jangan disimpan dalam hati. Sebab mata itu sendiri bersifat materi atau benda yang pasti akan hancur. Maka apapun benda yang terlihat oleh mata, juga akan hancur pada waktunya. Dan ketika apa yang dilihat oleh mata tersimpan dalam hati, ketika sesuatu itu telah hancur, hati akan menjadi rusak dan sakit. Hal ini bisa mengakibatkan butanya mata hati dan akan membuat pemiliknya terjerembab dalam jurang kesengsaraan. Bagaimana tidak, wong manusia itu ditentukan oleh kondisinya hatinya kan?

     Memilikki mobil, rumah dan pakaian bagus, bukan berarti telah melanggar hukum Zuhud. Kecuali rumah, mobil dan pakaian bagus hanya sekedar untuk kemewahan tanpa manfaat. Selain itu dari, maka itu disebut sebagai hubbuddunya atau cinta kepada dunia.

    Contoh kasus. Seseorang memilikki sawah dan ingin hidup Zuhud. Jika persepsi Zuhud yang ia milikki adalah tidak memilikki dunia, maka ia akan mencangkul sawahnya sendiri yang luasnya ndak karuan. Mau sampai kapan ia bisa menyelesaikan pekerjaannya itu, belum lagi nanti untuk nandur dan mulai menanam padi. Rasanya sangat efektif. Ia boleh memilikki kerbau untuk turut membantu membajak sawahnya. Kalau kemudian ia pikir kalau kerbau tidaklah praktis, karena harus merawatnya setiap hari, memberi makan serta menjaganya dari sakit, maka mungkin traktor pembajak sawah lebih praktis. Dan ia boleh memilikki traktor pembajak sawah tersebut. Begitu pula perihal materialitas yang lainnya seperti mobil, motor, baju, pakaian, dan rumah sebagainya, boleh dimilikki selama itu menjadi kebutuhannya.

     Banyak orang sering terjebak oleh paradigma Zuhud. Pokoknya Zuhud itu harus miskin dan tidak boleh kaya. Kurang tepat! Bisa jadi orang paling kaya merupakan orang yang paling Zuhud, jika kekayaannya dipergunakan untuk urusan akhiratnya. Lihat bagaimana kisah Sayyidina Abu Bakar Siddiq. Beliau adalah orang yang paling kaya raya, tapi hartanya dipergunakan untuk urusan agama. Apa kemudian beliau berhenti berkerja dan berusaha untuk mencari kekayaan? Tidak, beliau tetap mencari uang sebanyak-bayaknya buat kemudahan beliau menuju Allah.

     Bahkan perhatikanlah bahwa Rasulullah menikah dengan Siti Khadijah yang kaya raya, kemudian beliau gunakan kekayaan itu untuk mengajak orang lain beriman kepada Allah. Rasulullah pun pernah mengenakan baju yang sangat bagus sekali, kemudian beliau berpapasan dengan seseorang dari baduy/badui yang tidak memakai baju, dan baduy tersebut meminta baju yang dikenakan Rasulullah. Pada saat itu juga Rasulullah mengganti bajunya dengan yang lain, sedangkan baju mewah tadi di berikan kepada si baduy. Ini adalah contoh Zuhud yang konkret. Beliau tidak meletakkan apapun yang beliau miliki didalam hatinya, sehingga ketika barang itu tiada, hati beliau tidak merasa tergores dan kehilangan. Jadi, silahkan saja punya mobil bahkan yang mewah sekalipun, jika itu sudah menjadi kebutuhan. Silahkan juga punya rumah yang bagus, baju yang bagus dan segala yang bagus, jika itu telah menjadi kebutuhan. Loh, baju itu kan tujuannya hanya untuk menutup aurat dan terjaga dari hawa panas dan dingin? Bukan hanya itu. Baju bertujuan menjaga harga diri seseorang. Bagaimana pemimpin besar zaman sekarang memakai baju yang lusuh? Katakan saja presiden memakai baju ala kadarnya, bagaimana ia akan di hargai pemimpin-pemimpin Negara lain? Di pundak presiden ada jutaan manusia. Jika beliau tidak mampu menghormati dirinya, maka itu sama seperti beliau menjatuhkan harga diri jutaan rakyatnya. Maka kita berfikir rasionalistis…!!!!

     Mobil, tempatnya digarasi. Uang di brankas. Baju, ya dilemari. Semua ada tempatnya masing-masing. Maka jangan pernah menempatkan itu semua di dalam hati. Begitu pula suami, istri, anak atau siapapun. Sebab merekapun adalah materi atau benda yang pasti hancur. Jangan hancurkan hati hanya karena rusaknya benda yang dimiliki.

     Rasul pernah bersabda bahwa kemiskinan mendekatkan pada kekafiran. Sebab orang miskin akan lebih sensitive terhadap kondisinya. Ia akan merasa riskan ketika yang menjadi kebutuhannya tidak terpenuhi. Orang Islam diperintahkan untuk menjadi orang kaya, tentunya dengan cara yang diridhai Allah. Sabda Rasul, muslim yang ‘kuat’ lebih dicintai daripada muslim yang ‘lemah. Kuat dan lemah dalam segala hal orang muslim yang mencari harta dengan cara yang halal. Maka Allah akan menjadikan usahanya itu sebagai ibadah. Apabila akhirnya kekayaan itu digunakan untuk sedekah, Allah membalas dengan berjuta-juta lipat kali ganda.

     Rasul juga pernah bersabda, bahwa seorang lelaki yang keluar dari rumah untuk mencari nafkah, mencari uang, maka Allah menjadikan seperti orang yang sedang berjuang dijalan Allah. Jika ketika lelaki itu pulang kerumah tanpa membawa hasil, maka Allah akan menghapuskan dosanya dan dosa keluarganya. Dan anjuran serupa banyak tertulis di dalam Al-Qur-an, bahwa manusia diperintah untuk bertebaran diatas muka bumi ini dalam rangka mencari rezeki Allah.

    Masihkah kata zuhud masih mengikat pada diri manusia untuk sukses dalam kancah kehidupan dunia ini? Padahal bahwa hidup didunia adalah pencarian bekal untuk bisa bahagia dalam kehidupan yang abadi. (*)